Sebuah Penutup: Obrolan Tentang Perubahan Diri

“Lo sekarang jadi lebih ekspresif ya, Beth.”

Suatu hari saya mengunggah status di WhatsApp. Lalu, seorang teman berkomentar. Katanya, saya jadi lebih ekspresif. Nggak ada yang bisa saya lakukan selain ketawa baca chat darinya.

“Keliatannya gitu po? Tuntutan profesi mungkin,” balas saya ke dia.

“Keliatan banget. Pemilihan bahasanya pun juga lain,” jawabnya.

Waktu saya minta dia kasih contoh, dia bilang bahwa itu sulit. Karena, dia cuma pandai mengamati namun nggak lihai memberi contoh.

Wajar sih teman saya bilang begitu. Sejak lulus kuliah, kami nggak lagi sering hadir dalam hidup satu sama lain. Tentu saja banyak hal yang berubah. Namanya juga hidup kan.

Kadang, hal-hal terlihat berubah karena kita hanya melihatnya dari jauh. Karena kita berjarak dengan apa yang kita lihat. Padahal, kalau diamati lagi lebih dekat, meskipun memang terjadi perubahan, ada ‘inti’ diri yang tetap sama.

Berubah atau tidaknya diri kita, ya cuma kita sendiri sih yang benar-benar tahu. Ketika orang lain menilai diri kita sudah berubah, mungkin karena itu saja informasi yang bisa mereka dapatkan tentang kita dan mereka berhak menilai seperti itu. Namun saya percaya, selalu ada orang-orang yang tahu siapa kita sebenarnya. Selalu ada orang-orang yang ketika kita bersamanya, jadi diri sendiri terasa jauh lebih mudah. Meskipun mungkin nggak banyak jumlah orang seperti itu, keberadaan mereka perlu kita syukuri. Dan sebaiknya mereka kita jaga sampai waktu yang lama sekali. Selama mungkin, selama yang kita bisa.

Peluk jauh,

Beth

Obrolan Soal Keinginan Teman Pindah Kerja Keluar Kota

“Gue pengen deh nyoba kerja di daerah lain gitu, nggak di Jakarta terus.”

Seorang teman bercerita soal kejenuhannya kerja di Jakarta. Dia pengen banget nyobain kerja di luar kota. Dia pengen tahu rasanya kayak apa. Mungkin karena di dalam kelompok pertemanan kami, dia doang yang belum pernah merantau makanya dia bilang begitu. Rutinitas di Jakarta bikin dia capek. Well, kebayang sih.

Waktu dia ngomong begitu, saya cuma bilang ya cari aja. Tapi harus siap dengan segala konsekuensinya. Turun gaji, misalnya. Karena yah, namanya juga pindah kota, pasti beda juga standar (gaji dan) hidupnya.

Di sela-sela percakapan, sudah pasti teman-teman saya bertanya soal kapan saya kembali ke Jakarta. Kapan saya kerja di Jakarta. Saya cuma ngekek aja sambil bilang, “Yah, doain aja nemu yang cocok.”

Dari kuliah sampai sekarang, saya terus ada di Jogja. Belum pindah-pindah. Memang sih, tawaran dan keinginan untuk pindah ke Jakarta ada. Tapi, entah kenapa, saya masih belum yakin. Keluarga saya ada di sana, teman-teman saya pun banyak yang berada di Jakarta. Namun, masa pertimbangannya cuma itu sih?

Saya sempat tanya ke salah seorang teman tentang gimana kalau seandainya hijrah ke Jakarta adalah keputusan yang buruk? Jawaban dia simpel sekali. “Kalau memang ternyata nanti begitu, ya seenggaknya lo jadi tahu, pilihan apa yang nggak perlu dipilih lagi ke depannya,” katanya.

Manusia memang akan selalu dihadapkan sama banyak pilihan. Yang penting, kita harus bertanggung jawab sama apa yang sudah kita pilih. Saya nggak tahu apakah akhirnya akan pergi dari Jogja atau nggak. Saya punya beberapa rencana tapi saya terbuka sama banyak kemungkinan. Hidup kan penuh kejutan. Semoga saya selalu siap.

Take care,

Beth

Obrolan Tentang Rasa Bosan

“Bosen banget aku lama WFH begini.”

Percakapan dengan teman akhir-akhir ini didominasi oleh kata /bosan/. Ya gimana nggak bosan sih, lama terkurung di rumah/kostan, ruang gerak pun terbatas, interaksi sosial dengan orang lain pun juga sama terbatasnya.

Untuk mengatasi rasa bosan, teman saya ada yang marathon nonton series, ada yang belajar merajut, ada pula yang menuntaskan membaca beberapa buku. Ada juga yang mengatasi kebosanan dengan menjadwalkan diri keluar sore-sore cari jajanan di sekitar kostan.

Dulu ketika bosan, kita bisa dengan mudah ‘melarikan diri’ atau mengalihkan perhatian ke dunia luar. Sekarang, opsi itu makin terbatas bahkan berbahaya jika tetap dipaksakan. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita tidak begitu piawai menghadapi rasa bosan. Kita harus menghadapi diri sendiri sekaligus berkawan dengannya betul-betul di masa-masa seperti ini.

Pandemi COVID-19 masih belum menunjukkan tanda-tanda usai. Jadi, ya masih panjang. Sabar ya. Selamat menghadapi rasa bosan dengan rendah hati dan penuh penerimaan.

Jaga kewarasanmu baik-baik,

Beth

Obrolan Soal Susu Coklat

“Lo mau pesen susu coklat yang apa? Milo?”

“Ovaltine, Beth.”

Saya pikir yang namanya susu coklat di mana-mana sama aja. Tapi ternyata, beda merk ya beda rasanya. Komentar seorang teman di suatu malam menyadarkan saya soal hal itu.

Bagi dia, Ovaltine lebih enak ketimbang Milo. Kenapa? Seingat saya, menurut dia Ovaltine nggak ninggalin ‘jejak’ alias after taste-nya nggak sepekat Milo. Rasa coklatnya lebih light tapi ya tetep enak.

Gara-gara dia bilang begitu, saya jadi penasaran nyoba, biar tahu bedanya. Ya emang beda. Buat saya Ovaltine rasa coklatnya lebih dominan ketimbang Milo. Dan soal after taste, teman saya itu benar. Ovaltine nggak ninggalin ‘jejak’, tapi bukan berarti rasanya nggak bisa kita ingat.

Jadi pengen jajan Ovaltine,

Beth

Obrolan Soal Sekiranya Kita Mati Sebelum 2020 Berakhir

“Kita bakalan bertahan sampai akhir 2020 nggak ya? Kalau gue ada salah, yaudahlah dimaafin aja dari sekarang.”

“Ini semalem yang gue pikirin. Bikin wasiat gih.”

Kemarin sempat ada tweet yang bikin saya nyengir. Isinya soal ‘semua akan covid pada waktunya’. Tweet itu lucu sekaligus ngeri karena ya bisa saja benar. Apalagi melihat bagaimana Indonesia menghadapinya saat ini, ya mungkin-mungkin aja sih tweet itu jadi kenyataan. FYI, Indonesia udah mau siap-siap memasuki ‘new normal’. Saya kurang paham juga sih bakalan seperti apa ‘new normal’ versi bangsa ini. Mengingat syarat-syarat untuk melonggarkan PSBB dan memberlakukan ‘new normal’ belum sepenuhnya kita kantongi. Mbuoh. Belum lagi isu soal gagasan herd immunity untuk Indonesia. Lah kan kita bukan herd a.k.a ternak? Mbuoooohhh.

Lantas, terjadilah obrolan sama teman soal apakah kami masih akan hidup by the end of 2020. Saya titip pesan ke teman untuk ingatkan ke keluarga supaya jasad saya dikremasi saja jika saya mati duluan. Tapi ya kalau matinya karena COVID-19, mungkin beda lagi treatment-nya, jadi menyesuaikan aja.

Lalu teman saya menimpali, semisal pun dia mati sebelum 2020 selesai, ya semoga bukan karena COVID-19. Karena kasihan nanti keluarganya akan dikucilkan oleh masyarakat dan dikasih stigma. Saya ngekek dan mengaminkan.

Obrolan ‘dark‘ kami ini pun berlanjut. Meskipun ‘dark‘ ya bikin ketawa juga. Apalagi waktu menyinggung kekhawatiran nggak sempat ngomong semua yang perlu diomongin ke orang-orang tertentu atau tersayang. Atau dia yang kita sayang tapi nggak berani bilang. Oke sip.

To tell them we love them. To tell that we’re sorry,” kata teman, yang kemudian saya timpali, “To tell them wey utang lo bayar wey.”

Ya namanya juga ngobrol sama teman, topik paling seram pun bisa jadi bahan guyon biar nggak takut-takut amat. Sempat-sempatnya pula teman saya ngingetin supaya ATM saya dikasih ke dia berikut password-nya, you know, just in case. Sialan emang, wkwkwk.

Nggak ada yang tahu akhir tahun 2020 ini atau masa depan itu bakal kayak apa. Yang bisa tahu pun, ya udah cukup tahu aja karena mau mengubah apa yang seharusnya terjadi juga mustahil nggak sih? Khawatir iya, takut iya, sedih juga iya. Tapi life must goes on. Ketawa ajalah, jangan serius-serius amat kayak lagi sidang putusan MA. Kalau pun ada yang bisa dilakukan, ya paling menjalani sisa hidup dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Sambil bercanda ngawur virtual sama teman saya itu, ada satu nama yang saya pandangi di layar HP. Nggak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa semoga nama itu baik-baik saja dan selalu berbahagia, di mana pun dia berada.

Take care guys,

Beth